Senin, 28 Februari 2011

2 cara mengubah tampilan layout fb

2 Cara Merubah Tampilan Layout Facebook

cara mengubah tampilan facebook Bosan dengan tampilan facebook yang begitu-gitu saja tanpa variasi, tidak seperti friendster atau myspace yang bisa kita kostumisasi sesuai dengan kemauan kita. Kalau begitu coba yang satu ini, dengan cara ini kita dapat mengganti tampilan halaman facebook menjadi lebih bagus dan yang paling penting bisa dikostumisasi sendiri.

Aritkel ini saya buat untuk Anda yang suka dengan kostumisasi tampilan dan sekaligus memenuhi kebutuhan beberapa pengunjung yang menuju keblog ini melalui google dengan keyword tentang :
-cara mengganti layout facebook
-tutorial mengganti layout facebook
-merubah tampilan facebook
-mengubah tampilan facebook

Dan ternyata banyak sekali yang mencari artikrl tentang tampilan facebook. Setelah beberapa penelusuran website, blog dan group-group yang berisi tentang tutorial
mengganti layout facebook, saya menemukan 2 cara berbeda:

1. Merubah tampilan layout facebook dengan cara userstyles.org (untuk penguna mozila firefox)
cara mengubah tampilan facebook

-download add-ons mozzila

-klik "add to firefox", installasi and restart mozilla firefox

-pilih tampilan yang diinginkan disini

-klik tombol "Load into Stylish"

-save dan refresh halaman facebook Anda



2. Merubah tampilan layout facebook dengan cara yontoo.com (untuk penguna mozila firefox dan internet explorer)
cara mengubah tampilan facebook

-kunjungi website Yontoo

-pilih "Start Installation"

-install Add-ons dan restart mozila

-pasang aplikasi PageRage di facebook

-pilih tampilan yang diinginkan

-lihat profile anda

Cara no.1 hanya bekerja pada komputer sendiri yang sudah diinstal add-on stylish
dan
Cara no.2 hanya bekerja pada pada komputer yang sudah diinstal add-on Yontoo dan pemilik facebook memasang aplikasi pagerege. Hal ini memungkinkan orang lain dapat melihat tampilan facebook kita jika mereka melakukan hal yang sama.

Sampai saat ini masih belum ada cara mengubah tampilan facebook untuk dilihat semua orang

Ingat Facebook tidak sama seperti Myspace/Friendster yang secara resmi dapat mengubah tampilannya sesuai dengan keinginan kita. Cara ini hanya akal-akalan dari pencipta add-on yang kreatif.

Jumat, 25 Februari 2011

Bila Aku Jatuh Cinta




Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !


Ada Cinta di Sekolah…






Sobat muda muslim, ngomongin soal cinta, nuansanya bisa berwarna-warni. Apalagi kalo yang ngomongin adalah anak sekolah seusia kamu. Dijamin obrolan seputar cinta jadi acara yang spesial dan seru. Utamanya bagi kamu yang baru kenal makhluk bernama cinta. Serasa menemukan dunia baru. Persis adik kita yang kesengsem berat sama mainan barunya. Sampe tidur pun dibawa-bawa aja tuh mainan. Bahkan boleh jadi kebawa juga dalam mimpinya. Sampe-sampe ortu kita suka geleng-geleng kepala, saat adik kita ngigo soal mainan barunya. Maklum saja, baru merasakan gimana senengnya suasana hati.

Kata Mbak Titik Puspa dalam sebuah lagunya, jatuh cinta itu katanya berjuta rasanya. Bener nggak sih? Hanya mereka yang pernah merasakannya. Konon kabarnya, emang begitu kok. Dari mulai asem, manis, asin, kecut, sampe pedes dan turunannya yang berjumlah ribuan rasa. Wah, kayak lidah aja yang punya ribuan sensor syaraf untuk mengidentifikasi rasa. Seru banget ya? Hmm…

Well, apalagi kalo yang jatuh cinta itu remaja yang masih pada sekolah. Bisa tambah heboh sekaligus menggelikan. Lho, kok bisa? Maklum, biasanya teman remaja suka malu-malu kucing. Sebab, bagi kamu yang jatuh cinta pertama kali adalah pengalaman yang mendebarkan. Boleh dibilang bisa bakalan dicatat dalam lembaran sejarah kehidupan kamu. Soalnya, emang seru sih. Tul nggak? Jadi deh, sesuatu yang terindah dalam hidup kamu.

Sobat muda muslim, anak remaja mana sih yang awalnya nggak malu-malu kucing kalo ketemu kecengannya? Kayaknya, hampir semua teman remaja begitu. Biasanya anak SMP yang paling banyak, meski anak SMU juga nggak sedikit yang masih polos tentang urusan cinta.

Bagi tipe kebanyakan dari kamu yang emang malu-malu kucing, biasanya cuma seneng ngincer doang. Pas ketemu orangnya bisa salting banget. Kalo jauh dengan doi, hati kita rindu. Eh, begitu doi dekat kita, malah dak-dik-duk, sebagian lagi malah memasang tampang jual mahal. Pura-puranya sih, nggak suka. Padahal, justru pengen disapa. Dasar!

Nah, rupanya di sinilah serunya urusan cinta anak sekolah. Selain karena masih pemula dalam masalah cinta, juga karena persoalan kesiapan mental. Maklum saja, baru lepas dari masa kanak-kanak beranjak dewasa. Itulah remaja. Pengennya nggak disebut anak kecil lagi. Itu sebabnya, untuk bisa lepas dari predikat bocah cilik, biasanya teman remaja suka melakukan banyak hal, termasuk dalam urusan cinta, yang katanya salah satu ciri anak remaja. Tapi sayangnya, dari segi mental masih belum mapan. Artinya kadang masih merasa sebagai anak kecil. Cirinya apa? Biasanya teman remaja merasa jangan disalahkan bila berbuat sesuatu. Anggaplah itu sebagai sebuah 'kesalahan' kecil yang wajar dilakukan. Walah?

Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak heran kalo ada anak puteri yang suka ngumpet-ngumpet alias backstreet bareng gebetannya karena takut ketahuan sang ortu. Satu sisi pengen disebut udah dewasa, dengan menjalin hubungan cinta dengan sang kekasih, tapi di satu sisi lagi, doi nggak mau disalahkan juga. Itu sebabnya, doi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Takut direcokin sama ortunya. Berbahaya memang!

Mewujudkan cinta Hmm… ini yang paling greng dan favorit untuk dibicarakan. Bukan apa-apa, rasanya cinta yang hadir dalam diri kita kagak bakalan seru kalo nggak berusaha untuk diwujudkan. Artinya, kalo cinta cuma mampir di hati, bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng, dada kita terasa bergolak oleh panasnya api cinta, itu belum seberapa dahsyat. Kenapa? Sebab, bagi sebagai teman remaja, biar oke kudu diwujudkan dalam bentuk aktivitas yang lebih kreatif. Yang paling mudah adalah pacaran. Nah lho?

Betul, banyak teman kita yang menempuh jalur itu. Katanya sih, pacaran adalah wujud dalam mengekspresikan cinta yang hadir dalam diri kita. Tanpa diwujudkan dengan pacaran, cinta ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Begitulah komentar para aktivis pacaran.

Sobat muda muslim, pacaran bukan barang aneh bagi anak jaman kiwari. Jaman penulis kecil dulu, kira-kira ketika masih SD, sebetulnya rasa suka sama lawan jenis sudah muncul. Naluriah kok. Tapi tentunya belum berani untuk maju sejauh anak sekarang. Maklum saja, jaman dulu sarana komunikasi terbatas banget. Televisi yang ada baru TVRI. Siarannya kebetulan masih lebih banyak pendidikannya. Jadi nggak banyak contoh untuk berbuat lebih jauh dari itu, misalnya untuk melakukan pdkt (baca: pendekatan) ke lawan jenis. Cukup ngincer di balik pohon kembang di taman sekolah.

Nah, ketika jaman berubah. Teknologi informasi makin mudah diakses, maka dimulailah babak baru perubahan gaya hidup masyarakat. Siaran radio masuk, televisi swasta banyak didirikan. Koran, tabloid, dan majalah muncul dan dicetak ribuan eksemplar. Semuanya berlomba menggaet iklan sebanyak mungkin. Maka jangan kaget kalo para konglomerat media massa, khususnya televisi jor-joran bikin tayangan unggulan. Tujuan mulianya, tentu saja untuk menggenjot pendapatan usahanya. Tapi celakanya, mereka nggak peduli lagi apakah program acaranya bakalan merusak ataukah tidak bagi pemirsanya.Prinsip kapitalisme mengajarkan: "Asal ada manfaat di sana yang berupa materi, kejar!" Jadi, yang penting bisa mendatangkan rejeki nomplok. Habis perkara.

Saat ini, jangankan anak SMP, anak SD aja udah banyak yang berani untuk ngedeketin lawan jenis. Bahkan pake acara nge-date segala. Kok bisa? Siapa lagi teladannya kalo bukan ngeliat dari tayangan di televisi. Atau baca di media cetak. Nggak repot kan?

Jadi, keberanian anak sekolah dalam mewujudkan cintanya secara berlebihan ternyata amat dipengaruhi juga oleh berkembangnya teknologi informasi. Komunikasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat kita melaju dengan cepat dan adakalanya mengalahkan norma-norma yang berlaku.

Sobat muda muslim, jadi jangan heran kalo pacaran dinobatkan sebagai cara untuk mewujudkan cinta yang paling efektif. Bahkan boleh jadi pacaran diyakini betul oleh sebagian besar remaja sebagai satu-satunya cara untuk mengekspresikan cintanya kepada lawan jenis. Ah, masak iya sih?

Benar. Bagi sebagian teman kamu boleh jadi berpendapat begitu. Sebab, berdasarkan bisik-bisik tetangga, pacaran itu bikin hidup lebih hidup. Nggak heran, banyak teman remaja yang meyakini bahwa pacaran tempatnya untuk mendapat perhatian dari lawan jenis. Lihat deh teman sekelas kamu yang kuat pacarannya, biasanya selalu memperhatikan penampilan. Gengsi dong kalo penampilannya kumuh bin kucel, sementara sang kekasih kayak guru yang kelewat telaten merhatiin kita. Tapi berbeda dengan guru, kalo diperhatiin sama si doi mah bisa jadi bikin kaki kita serasa nggak di tanah lagi, alias mengawang-awang. Suweneng buwanget. Pokoknya OK's bang-get deh! :

Memang manusia itu seneng diperhatiin kok. Itu sebabnya, teman kamu yang lagi getol pacaran, biasanya jadi rajin banget ke sekolah. Biar bisa merhatiin dan diperhatiin sama lawan jenisnya. Lho, jadi bukan untuk nuntut ilmu? Ssssttt, itu mah usahasampingan. Walah?

Bagi teman kamu yang lagi dilanda kasmaran, kadang cuma denger suaranya atawa papasan di perpus aja suasana hatinya udah berbunga-bunga. Saking senangnya tentu. Apalagi kalo kemudian doi ngajak jalan-jalan ke kantin or sekadar duduk-duduk di taman sekolah. Ditanggung anti manyun deh. Dan biasanya langsung sregep menyambut rayuan tersebut.

Sobat muda muslim, pacaran sebagai perwujudan dari rasa cinta sering dianggap mendatangkan berkah. Berdasarkan desas-desus teman sekelas yang dulu pernah aktif, pacaran juga sebagai ajang sharing, alias berbagi. Coba deh kamu lihat teman kamu yang getol pacarannya, biasanya suka berbagi cerita, pengalaman, masalah, termasuk mungkin berbagi utang (he…he…, kayaknya yang ini mah jarang diungkap. Malu dong).

Yup, pacaran seringkali dianggap harus dijalani karena diyakini sebagai cara ampuh untuk berbagi cerita di antara dua lawan jenis ini. Katanya sih, cita-cita mulianya kepingin bisa menyelami siapa jati diri pasangannya. Itu sebabnya, banyak teman remaja yang merasa wajib melakukan pacaran. Berbahaya! Padahal, itu cuma alasan aja. Klise lagi. Biar disebut legal aja hubungan gelapnya itu. Pacaran hubungan gelap? Betul, sebab itu udah termasuk gaul bebas. Hati-hati lho!

Antara cinta dan cita-cita Sebagian dari kamu boleh jadi protes karena nggak setuju dengan apa yang diungkap di atas. Tapi ingat sobat, kita ngebahas dan menilai masalah ini bukan karena benci sama kamu, bukan pula karena sinis. Nggak lah yauw. Justru kita ingin supaya kamu juga lebih dewasa dan bijak menilai setiap perbuatan. Nggak cuma ngikutin apa kata hawa nafsu kamu. Itu sih, bisa gaswat suraswat atuh! :

Sobat muda muslim, kalo kamu masih sekolah, pantasnya fokus mikirin pelajaran dong, ketimbang mikirin pujaan hati kamu. Memang, rasa cinta bisa muncul di mana saja, termasuk di sekolah. Tapi kan nggak mesti kudu diwujudkan dalam aktivitas maksiat. Tul nggak?

Di sekolah boleh ada cinta, tapi jangan sampe membunuh cita-cita kamu. Cinta itu anugerah kok, dan bahkan sangat boleh jadi membawa berkah kalo kita bisa mengendalikannya. Tapi cinta bakalan membawa petaka, kalo kita nggak bisa mengendalikannya. Kata pepatah, Omnia vincit Amor: et nos cedamus Amori. Dalam bahasa kita berarti, Cinta menaklukan segalanya: dan kita takluk demi cinta.

Bahaya banget kankalo kita takluk oleh cinta, justru pada saat kita kudu meraih cita-cita dalam belajar kita. Sayang dong, cita-cita ortu kita, cita-cita kita untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya harus kandas gara-gara hadir juga cinta dalam diri kita, dan menggerogoti niat kamu untuk meraih cita-cita. Artinya, sekolah bagi kamu bukan ladang memuluskan cita-cita kamu, tapi malah jurang untuk menghancurkan cita-cita dan mengejar cinta yang, barangkali, masih belum pantas untuk kamu dapatkan. Maklum saja, cinta anak sekolah kan masih angin-anginan. Tul nggak?

So, daripada kamu mengorbankan masa depanmu dengan mengejar cinta dan mewujudkannya dalam pergaulan bebas, mending kamu konsentrasi mikiran pelajaran sebagai bagian dari usaha kamu meraih cita-cita setinggi langit. Tapi sayangnya, nggak banyak dari kita yang kemudian menyadari masalah ini. Akibatnya, meski masih sekolah, banyak teman remaja yang getol menyalurkan syahwatnya via pergaulan bebas (baca: pacaran), dengan atas nama cinta. Kalo udah kebablasan dalam bergaul, yang repot bukan cuma guru, sekolah, dan ortu kamu, tapi kamu pun bisa ketiban getahnya. Anggaplah misalnya bagi kamu yang puteri, ternyata hamil akibat hubungan intim dengan pacar kamu. Sekolah udah pasti mengeluarkan kamu, guru kamu sewot, terlebih ortu kamu merasa dikhianati sama kamu. Dan, kamu pun menanggung malu juga. Duh, jangan sampe deh itu menimpa kamu.

Nah, sebagai bekal kamu dalam meniti cita-cita dengan tanpa terganggu oleh cinta (palsu), kamu perlu tahu tips-tips berikut: Pertama, jangan sekali-kali menganggap bahwa cinta kudu diwujudkan dengan pacaran. Kedua, cinta bisa muncul di sekolah. Tapi kamu kudu tetap meraih cita-cita. Caranya? Tunda dulu keinginan kamu untuk mikirin soal cinta dengan banyak belajar dan aktivitas untuk meraih cita-cita. Ketiga, dekati teman-teman yang emang nggak suka ngomongin soal pacaran. Keempat, menempa diri dengan banyak mengkaji Islam. Jadi kamu jangan malas ikut pengajian. Kelima, sekuat mungkin kendalikan nafsumu, misalnya dengan banyak olah raga dan puasa.

Yup, semoga ini bisa bikin kamu tentrem dan bisa untuk ngendaliin diri kamu. Tapi tentunya, karena yang terjadi sekarang ini bersifat massal, maka kita menyeru juga kepada bapak-bapak pejabat kita supaya jangan segan untuk memberangus tayangan dan bacaan yang merusak kepribadian remaja. Khususnya yang berkaitan dengan masalah pergaulan bebas.

menjadi bangsa pelupa

Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang bangsa kita tergolong sebagai bangsa pelupa. Jauh sebelum peradaban modern muncul, orang tua kita menciptakan sebuah adagium, “lupa kacang akan kulitnya”, untuk menggambarkan karakter orang yang lupa akan asal-usul dan jati dirinya. Orang tua Jawa bilang, “wong melik nggendhong lali”, untuk menggambarkan karakter orang yang suka mabuk kekuasaan seperti dalam repertoar “Petruk Dadi Ratu”. Sebuah lakon yang secara simbolik menggambarkan Petruk yang jelata tengah berada di atas tahta kekuasaan dengan memangku perempuan bahenol sembari mencekik botol minuman keras; sebuah ikon jahat betapa kekuasaan, uang, dan perempuan, bisa membuat orang lupa akan kesejatian dirinya. Novelis Cekoslovakia, Millan Kundera, pun pernah bilang bahwa salah satu perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa.

Berbagai fenomena sendu dan tragis yang mengoyak negeri ini, agaknya juga makin membenarkan kalau kita semua tengah hidup di sebuah negeri pelupa. Lihat saja “Perang Koja” yang menelan ratusan korban luka, bahkan ada yang meninggal. Peristiwa tragis 14 April 2010 itu sesungguhnya tak akan terjadi kalau pihak-pihak yang bersengketa tidak lupa akan keberadaan makam keramat Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara, itu. Mereka lupa kalau di sana ada makam seorang tokoh kharismatik, Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad. Dia diakui sebagai penyebar agama Islam dan seorang tokoh yang melegenda. Namanya bahkan jadi cikal bakal nama kawasan Tanjung Priok.

Kita hampir selalu lupa pada sejarah bangsanya sendiri. Kasus-kasus yang memalukan dan menampar wajah bangsa yang dulu dikenal sangat beradab dan bermartabat semacam itu sejatinya bersumber dari keengganan dan kemalasan bangsa kita secara kolektif untuk bertindak cerdas dan penuh kearifan dalam memandang nilai-nilai historis sebagai media pembelajaran hidup. Kita menjadi begitu gampang melupakan peristiwa-peristiwa masa silam yang seharusnya bisa menjadi “museum peradaban” sebagai salah satu sumber kearifan diri. Yang lebih tragis, situs dan cagar-cagar budaya tak jarang digusur dan dihancurkan dengan dalih demi pembangunan.

pteruk dadi ratuSindrom pelupa yang sudah kadung akut melekat pada memori bangsa ini diperparah dengan upaya “pencucian otak” anak-anak bangsa atas kesaksian sejarah bangsanya sendiri. Betapa banyaknya tempat dan monumen bersejarah yang telah tergusur demi memuaskan nafsu hedonis kaum pemilik modal. Jika perlu, main gusur tanah-tanah rakyat yang sudah lama mereka huni untuk disulap menjadi super-mall atau tempat-tempat hiburan bergaya aristokrat. Imbasnya, anak-anak negeri ini jadi kehilangan spasi untuk melakukan jeda dan bermain yang sesuai dengan naluri dan dunianya. Anak-anak masa kini sudah lupa pada permainan tradisional yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Anak-anak masa kini telah dicekoki dengan permainan serba canggih dan modern yang melupakan nilai-nilai keuletan, kerja keras, dan mandiri. Semuanya ingin serba cepat dan instant.

Saya bukan antimodernisasi. Seiring dengan derap dan dinamika peradaban yang terus melaju menuju pusaran global, modernisasi mustahil bisa ditolak. Bahkan, bangsa kita perlu terus dipacu untuk melahirkan karya-karya kreatif dan modern yang mampu menjadi master-piece di tingkat dunia. Namun, modernisasi yang sering diidentikkan dengan pembangunan berkelanjutan akan menjadi tidak bermakna apabila harus menggusur dan menghancurkan nilai-nilai kesejarahan yang diyakini menjadi sumber kearifan lokal.

Ya, ya, lakon “Petruk Dadi Ratu” dan “Perang Koja” telah mengingatkan kita, betapa sikap lupa dan mabuk kekuasaan hanya akan melahirkan luka dan tragedi kemanusiaan. ***

bahjasa kekerasan dan kebebasan beragama

Bahasa sejatinya merupakan media komunikasi dalam konteks pergaulan umat manusia untuk membangun peradaban yang lebih terhormat dan bermartabat. Melalui bahasa, umat manusia mampu mengekspresikan pikiran dan emosinya sehingga bisa direspon pihak lain. Oleh karena itu, bahasa akan terus tumbuh dan berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat pemakainya. Ia tak akan pernah mati sepanjang manusia sebagai pemangku budayanya masih eksis dan terlibat secara intens untuk menggunakan bahasa yang bersangkutan. Secara pragmatik, bahasa menjanjikan nilai-nilai kemaslahatan hidup untuk membangun kerukunan dan semangat perdamaian di tengah kemajemukan agama dan budaya. Prinsip kerja sama dan kesantunan berbahasa amat memungkinkan masyarakat pemakai bahasa untuk menaburkan kesejukan di tengah kecamuk amarah yang membadai akibat perbedaan prinsip dan keyakinan hidup.

upin-ipinNamun, agaknya peran bahasa selama ini belum dioptimalkan sebagai media komunikasi yang jitu untuk membangun tatanan nilai hidup yang jauh lebih beradab dan berbudaya. Yang sering mencuat ke permukaan justru bahasa-bahasa kekerasan yang mengancam kerukunan dan semangat perdamaian. Prinsip kerja sama dan kesantunan berbahasa makin jauh terjerembab dalam semangat primordialisme semu, sehingga tak sedikit orang yang demikian gampang “mengkafirkan” pihak lain yang tidak sepaham dan sekeyakinan. Yang lebih menyedihkan, bahasa sebagai media komunikasi telah tergantikan oleh benda-benda pembawa petaka. Pedang dan pentungan tak jarang digunakan untuk mengancam dan menakut-nakuti pihak lain di ruang publik demi memperoleh pembenaran terhadap prinsip dan keyakinan yang dianutnya.

Saya jadi tersentil oleh pernyataan Kang Sobary dalam sebuah tulisannya di Kompas (18 September 2010). Lewat sindirannya, budayawan itu bilang bahwa orang keras sering datang dari “ketandusan” hidup masa lalunya yang tak pernah menerima cinta. Apa tak mustahil mereka diharapkan memberikan cinta kepada kita?

Ya, ya, Kang Sobary tidak salah. Sebagai sesuatu yang universal, konon cinta menjadi basis manusia dalam meraih kehormatan dan martabat dirinya. Tanpa sentuhan cinta, manusia bisa jatuh terpuruk ke dalam kubangan yang penuh lumpur kebiadaban dan kenistaan. Hatinya selalu dilapisi dinding kebencian dan kepongahan. Dalam konteks demikian, mereka yang biasa menggunakan bahasa kekerasan di tengah-tengah kehidupan masyarakat komunalnya bisa jadi hatinya telah kering dari cinta; cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, cinta kepada lingkungan dengan segenap makhluk ciptaan-Nya. Dan itu artinya, mereka telah gagal menjalankan fitrahnya sebagai khalifah di atas bumi yang mesti “memayu hayuning bawana” sebagai manifestasi sikap keagamaan yang rahmatan lil ‘alamiin.

Kita jadi sedih ketika sentimen keagamaan dijadikan sebagai dalih untuk menaburkan kebencian kepada pihak lain yang berbeda agama. Terlepas apa pun motifnya, jalan kekerasan (hampir) dipastikan tak akan pernah sanggup menyelesaikan masalah. Seandainya Garuda Pancasila bisa menangis –meminjam lirik sahabat saya, Budi Maryono– mungkin telah lama kita tenggelam ke dalam kubangan air matanya. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang dicengkeramnya pun mulai tampak goyah dan bergetar akibat makin meruyaknya perilaku dan sentimen keagamaan yang makin tak tersentuh sikap toleran. Sungguh, ternyata berurusan dengan sesama manusia jauh lebih rumit ketimbang berurusan dengan Tuhan yang tak pernah mengajarkan paham dan bahasa kekerasan kepada hamba-Nya.

Urusan makin repot ketika bahasa sebagai media komunikasi telah dikubur perannya ke dalam kubangan peradaban. Yang muncul kemudian adalah bahasa “gedibag-gedibug atau brang-breng-brong” yang makin menjauhkan nilai kesejatian dirinya sebagai makhluk yang terhormat dan bermartabat. ***

anak indonesia potret generasi yang hilang

Hari ini Indonesia boleh tersenyum. Pasalnya, di tengah desingan ledakan gas elpiji yang mengancam, ribuan anak jalanan yang hidup terlunta-lunta, ribuan anak-anak yang menjadi korban kekerasan, atau ratusan anak-anak yang tersekap dalam ketakutan, ada jutaan anak-anak yang tengah merayakan hari “kebesaran”-nya. Ya, ya, ya, 23 Juli ini, anak-anak Indonesia sedang berupaya menarik perhatian dan simpati dunia melalui momen “Hari Anak Nasional”. Harapan kita, perayaan semacam itu tak semata hanya sekadar slogan, tetapi lebih dari itu, perlu dijadikan sebagai “starting point” untuk bersikap serius menyelamatkan mereka dari ancaman kekerasan sekaligus mengantarkan hidup mereka pada masa depan yang lebih cerah, beradab, dan berbudaya.

kekerasan terhadap anakkekerasan terhadap anak

Kalau kita sejenak melakukan kilas balik, sudah terlalu banyak anak-anak yang harus hidup dalam suasana penuh ancaman dan ketakutan. Bahkan, jumlah mereka yang menjadi korban kekerasan terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama tahun 2009, misalnya, data World Vision Indonesia menunjukkan angka 1.891 kasus. Setahun sebelumnya, ada sekitar 1.600 kasus kekerasan yang melukai kehidupan anak-anak. Beberapa surat kabar nasional selama tahun 2009 juga menemukan data sekitar 670 kekerasan yang menimpa anak-anak. Sementara, tahun 2008 sebanyak 555 kasus. Pengaduan ke KPAI selama tahun 2008 ada 580 kasus dan tahun 2009 ada 595 kasus. Data Bareskrim Polri selama tahun 2009 juga menunjukkan angka kekerasan yang menimpa anak-anak sekitar 621.

Kasus-kasus kekerasan pada anak yang sempat terdata, bisa jadi hanya sebuah fenomena gunung es. Di balik kasus memperihatinkan itu, masih banyak kasus kekerasan yang tak terungkap karena faktor internal keluarga yang tak ingin kasusnya mencuat ke permukaan. Kalau dugaan ini benar, alangkah tidak nyamannya jadi anak-anak yang hidup dan dibesarkan di sebuah negeri yang konon menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan itu. Apa pun alasannya, kekerasan terhadap anak mustahil bisa ditolerir. Anak-anak adalah pewaris sah negeri ini yang akan menentukan laju peradaban di tengah tantangan zaman yang makin bopeng dan carut-marut. Kalau masa depan mereka tercederai akibat pola asuh yang salah urus, atmosfer kekerasan yang terus meneror, atau sikap lingkungan yang sama sekali tidak berpihak kepada masa depan mereka, bukan mustahil kelak mereka benar-benar akan menjadi generasi yang hilang.

“Bila seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum. Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah. Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Bila seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak hidup dengan ketenteraman, ia belajar tentang iman. Bila seorang anak hidup dengan dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar untuk mencintai dunia!” Begitulah “warning” yang pernah diungkapkan oleh Dorothy Law Nolte, betapa pentingnya menyelamatkan dan mengawal masa depan anak-anak agar sanggup menjadi pewaris bangsa yang tangguh dan berkarakter.

sayang terhadap anak

Pada momen Hari Anak Nasional tahun ini, mari kita gandeng tangan anak-anak dengan kemesraan yang sempurna, kita tatap wajah polos dan lugu mereka dengan senyuman, kita sentuh tubuh mereka dengan kelembutan kasih sayang, untuk selanjutnya kita kawal masa depan mereka melalui pola asuh yang bisa membuat mereka terbebas dari rasa takut. Jangan sampai Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak hanya sekadar menjadi ayat-ayat hafalan di luar kepala, tetapi pada kenyataannya nafsu membunuh masa depan anak-anak justru makin liar dan tak terkendali.

Nah, Dirgahayu Anak-anak Indonesia!

bang iwan

(Tulisan ini sekaligus sebagai wujud apresiasi saya terhadap inisiatif Bang Iwan yang tengah menggelar “posting kolaborasi” dalam rangka melakukan refleksi terhadap “Hari Anak Nasional 2010”).


Hampir saja lupa kalau 23 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Momentum seperti ini seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap silang-sengkarutnya dunia anak yang terkebiri dan termarginalkan. Tak jarang anak-anak dari keluarga tak mampu sering “dipaksa” untuk secepatnya menjadi dewasa dengan beban tanggung jawab ekonomi keluarga secara berlebihan sehingga mereka tak sempat menikmati masa kanak-kanak yang ceria dan menyenangkan. Sudut-sudut kota pun sarat dengan keliaran anak-anak jalanan. Ironisnya, tak sedikit aparat yang menilai kehadiran mereka sebagai sampah masyarakat yang mesti dikarantina tanpa ada kemauan politik untuk membebaskan mereka dari cengkeraman kemiskinan dan ketidakadilan.

Anak jalanan, agaknya masih menjadi salah satu problem klasik negara-negara berkembang, termasuk di negara kita. Kehadiran mereka di sudut-sudut kota yang pengap dan kumuh bisa jadi sangat erat kaitannya dengan jeratan kemiskinan yang menelikung orang tuanya. Masih jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup, mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat urban yang terkesan liar dan kejam. Kekerasan demi kekerasan seperti mata rantai yang menempa sekaligus menggilas anak-anak miskin hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang terbelah. Tentu saja, kita tidak bisa bersikap apriori dengan mengatakan, “Salahnya sendiri, kenapa miskin?” Hmmm … kalau saja mereka punya pilihan untuk dilahirkan, sudah pasti tak ada seorang pun anak manusia yang ingin lahir dan besar di tengah-tengah deraan kemiskinan orang tuanya.

Dari sisi latar belakang kehidupan keluarga yang sangat tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, sesungguhnya tak ada tempat untuk menyia-nyiakan anak-anak miskin yang terlunta-lunta hidup di jalanan. Kehadiran mereka justru perlu diberdayakan dengan sentuhan lembut penuh kemanusiawian. Namun, berkembangnya sikap latah dan kemaruk ingin menjadi kaum borjuis dan bergaya hidup feodal secara instan agaknya telah membakar dan menghanguskan nilai-nilai kemanusiawian itu. Alih-alih menyantuni, gaya hidup borjuasi dan feodalistik itu, disadari atau tidak, justru telah memosisikan anak-anak jalanan makin kehilangan kesejatian dirinya. Kata-kata kasar dan perlakuan tak senonoh sudah menjadi hiasan hidup dalam keseharian anak-anak jalanan. Orang-orang kaya yang seharusnya bisa memberdayakan dan menggerakkan semangat hidup mereka justru makin tenggelam dalam sikap hipokrit, pongah, dan kehilangan kepekaan terhadap nasib sesama.

Kondisi itu diperparah dengan sikap negara yang belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan memadai buat mereka. Melalui tangan-tangan aparatnya, anak-anak jalanan justru digaruk dan dihinakan di atas mobil bak terbuka; diarak dan dipertontonkan kepada publik. Sungguh, sebuah perlakuan purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan masyarakat beradab.

Kini, ketika momentum HAN itu tiba, tak jugakah kita tergerak untuk menjadikan anak-anak jalanan sebagai generasi masa depan yang punya hak untuk hidup secara layak di bumi yang konon “gemah ripah loh jinawi” ini? Sudah tak ada ruangkah bagi mereka untuk bersemayam di dalam rongga hati kita hingga akhirnya mereka benar-benar harus kehilangan masa depan? ***

pecinta rasullullah

Dalam berbagai aktifitas dan pola kehidupannya, Rasulullah memang sudah di rancang oleh Allah SWT sebagai contoh teladan yang baik (al uswah hasanah) bagi semua manusia. Teladan ini mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pola makan.

Sepintas maslaah makan ini tampak sederhana, tapi dengan pola makan yang dicontohkan Rasulullah, beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat dan bugar. Bahkan, berbagai riwayat shahih menjelaskan bahwa Rasulullah sanggup membanting Rukanah beberapa kali dalam sebuah pertarungan gulat, padahal Rukanah adalah juara gulat Mekkah yang saat itu tak terkalahkan.

Ketika Kaisar Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah ternyata selama setahun dokter tersebut kesulitan menemukan orang yang sakit. Dokter tsb bertanya kepada Rasulullah tentang rahasia kaum muslimin yang sangat jarang mengalami sakit. Rasulullah bersabda: ‘Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali sudah betul betul lapar dan apabila makan, kami berhenti sebelum kekenyangan’ (Al hadist*)

Aktifitas Rasulullah yang padat dengan dakwah dan perjuanganmenegakkan agama yang masih muda ini, sehingga tiap menit dalam kehidupan Rasulullah selalu di isi dengan kegiatan yang produktif. Rasulullah hampir tidak pernah bermalas malasan, berbicara tanpa tujuan ataupun tidur yang melebihi batas. Siang dan malam waktu bleiau dipadati oleh urusan dakwah dan perjuangan. Aktifitas yang sarat beban ini harus di dukung oleh kondisi fisik yang prima. Dan Alhamdulillah, Rasulullah selalu dalam keadaan sehat dan hanya mengalami dua kali sakit selama hidupnya. Pertama, ketika di racun oleh seorang wanita Yahudi yang menghidangkan makanan kepada Rasulullah di Madinah. Kedua, menjelang wafatnya.

Para ahli kesehatan menilai gaya hidup Rasulullah dalam mengkonsumsi makanan, memberikan pengaruh besar terhadap kondisi kesehatan beliau. Kecerdasan Rasulullah dalam memilih menu makanan dan mengatur pola konsumsi telah menentukan tingkat kesehatan beliau.

Akhir akhir ini dunia medis baru menyadari bahwa ternyata pola makan merupakan faktor penentu dari penyakit2 yang di derita manusia. Kebanyakan penyakit disebabkan oleh kacaunya pola makan, dan begitu pula faktor penyembuhan penyakit seringkali ditentukan dari pola makan seseorang. Itulah sebabnya sekarang pola makan menjadi bagian dari obat dan penyembuhan. Selama ini dikenal dua bentuk pengobatan, yaitu:

1. Pengobatan sebelum terjangkit penyakit, yang sering di sebut pencegahan (preventif/ Ath thib Al wiqo’i)

2. Pengobatan setelah terjangkit penyakit (ath thib al ‘ilaji)

Dengan mencontoh pola makan Rasulullah, kita sebenarnya sedang menjalani terapi pencegahan penyakit dengan makanan (attadawi bil ghidza). Hal ini jauh lebih baik dan murah daripada kita harus berhubungan dengan obat obat kimia senyawa sintetik yang hakekatnya adalah racun. Berbeda dengan pengobatan alamiah Rasulullah melalui makanan dengan senyawa kimia organik.

Kita mengenal ungkapan, “mencegah lebih baik dari mengobati”. Mengenal serta meneladani pola makan Rasulullah merupakan langkah aplikatif dan tindakan preventif dari penyakit yang bisa menyerang tubuh kita.

Jika kita cermat melihat pola hidup Rasulullah, maka akan kita dapati point penting sbb:

  1. Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udara segar di subuh hari. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan (shalat) qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas dalam aktifitasnya sehari penuh. Orang yang memulai kehidupan di pagi hari dengan bangun subuh, biasanya menjalani hari dengna penuh semangat dan optimisme. Berbeda dengan orang yang tidak bangun di subuh hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas beraktifitas.
  2. Di pagi hari, Rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya. Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu. Kita tahu siwak mengandung fluor yang sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi. Fluor yang terkandung dalam siwak merupakan fluor alami yang berguna, berbeda dengan fluor sintetik yang dapat membahayakan kesehatan. Saat ini, fluor alami yang terdapat dalam siwak sudah mampu di ekstraksi dalam bentuk pasta gigi agar mudah di gunakan.
  3. Di pagi hari pula Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang di campur dengan sesendok madu asli. Khasiatnya luarbiasa. Dalam Al Quran, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Hal ini berarti pada dasarnya madu bisa menjadi obat atas berbagai penyakit. Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan. Madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. dalam istilah masyarakat Arab, madu di kenal dengan al hafidz al amin karena bisa menyembuhkan luka bakar.
  4. Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah senantiasa mengkonsumsi 7 butir kurma ajwa’ (matang). Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun”. Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa di netralisir oleh zat zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibnu al barra, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tsb, akhirnya meninggal. Tetapi Rasulullah selamat dari racun tsb. Rahasianya adalah 7 butir kurma yang biasa di konsumsi Rasulullah.
  5. Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan. Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin. Ada cerita menarik terkait dengan buah Tin dan minyak Zaitun. Allah bersumpah dalam surat At Tin. Dalam Al Quran, kata at tin hanya disebutkan sekali, sedangkan kata az zaytun diulang sampai 7X. Seorang ahli melakukan penelitian terkait hal itu. Kesimpulannya luar biasa: jika zat zat yang terkandung dalam at tin dan az zaytun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1;7, maka akan menghasilkan ahsani taqwim (tubuh terbaik dan optimum kekuatannya) sebagaimana tercantum dalam surat At Tin
  6. Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur mayur. Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. (Dalam kamus Al Munjid Sana dan sanut berarti jenis tumbuh tumbuhan, bisa bermakna sayuran atau lalapan. Tapi sanut bisa juga berarti madu dan keju). Menurut Prof. Dr Musthofa, di Mesir keduanya mirip dengan sabbath dan ba’dunis. Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang luar Arab, tpai Prof. Musthofa menjelaskan, intinya adalah sayur sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Rasulullah tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau beraktifitas dulu supaya makanan yang di konsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah di cerna. Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah bersabda: “Cairkan makanan kalian dengan zikir kepada Allah dan shalat dan janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras” (HR Abu Nu’aim dari Aisyah r.a)
  7. Disamping menu wajib diatas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya. Diantaranya tsarid, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak. Beliau juga senang makan buah yaqthin atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula. kemudian beliau juga senang makan buah anggur dan hilbah (susu).
  8. Rasulullah sering menyempatkan untuk berolahraga. Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak anak dan cucu cucunya. pernah pula beliau lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah ra. Olah raga diakui oleh para ahli kesehatan sangat bermanfaat bagi tubuh.
  9. Rasulullah tidak menganjurkan umatnya untuk bergadang. Karena itulah beliau tidak menyukai berbincang bincang dan makan sesudah waktu isya. Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi. Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.

Pola makan Rasulullah ternyata sangat cocok dengan irama biologis berupa siklus pencernaan tubuh manusia yang oleh pakar kesehatan disebut circadian rhytme (irama biologis).

Prof. Dr Musthofa Romadhon juga menjelaskan tentang tata cara Rasulullah mengkonsumsi makanan. Hal ini tidak kalah pentingnya dengan pemilihan menu. Setinggi apapun gizinya, jika pola konsumsinya tidak teratur, tetap akan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Inti pola konsumsi Rasulullah adalah menghindari isrof (berlebihan) dalam makan dan minum. Rasulullah bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi sesuatu yagn lebih buruk dari perutnya. Cukuplah baig anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain maka sepertiga (dari perutnya) untuk makanannya, sepertiga untuk air minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya (udara)” (HR Tirmidzi dan Al Hakim. Imam Arna’uth dan Imam Adz Dzhahabi mensahihkan hadist ini)

Ketika seseorang terlalu kenyang dan terlalu banyak makan, maka lambung akan penuh dan pernafasannya akan terganggu. Proses pencernaan menjadi lama dna zat zat yang terkandung dalam maknanan tsb. menjadi tidka berfungsi dengan baik. Kondisi fisik menjadi tidak prima dan aktifitas pun tidak maksimal. Prof. Dr Musthofa menekankan bahwa assyab’u (kenyang) itu bukan al imtila (memenuhi perut dengan makanan). Kenyang yang sebenarnya adalah tercukupinya tubuh oleh zat zat yang dibuthkannya sesuai dengan proporsi dan ukurannya.

Rasulullah tidak pernah melakukan idkhol at thoam ‘ala thoam (makan lagi sesudah kenyang). Suatu hari, dimasa setelah Rasulullah wafat, para sahabat mengunjungi Aisyah. Saat itu Khilafah Islamiyah sangat luas dan makmur. Sambil menunggu Aisyah, para sahabat yang saat itu sudah menjadi kaya raya, saling bercerita tentang menu makanan mereka yang meningkat dan bermacam macam.

Aisyah yang mendengar hal itu tiba tiba menangis. Tentu saja para sahabat terheran heran, “Apa yang membuatmu menangis wahai bunda Aisyah?” tanya para sahabat.

Aisyah menjawab, “Dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan (mencapai) dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti”

Penelitian membuktikan bahwa berkumpulnya macam macam makanan dalam perut telah melahirkan bermacam macam penyakit. Maka sebaiknya tidak mudah tergoda untuk makan lagi jika sudah kenyang.

Kamis, 24 Februari 2011

anak sekolah jaman sekarang"menurutku"


dunia pendidikan merupakan pintu awal berkembangnya sebuah negara...kualitas kedepan suatu negara di ukur dari kwalitas "kasta"pendidikan di negara tersebut...

saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan seseorang atau lembaga, tapi saya coba untuk tuangkan apa yng selama ini menjadi "momok" dalam benak saya mengenai pendidikan di indonesia...

sering saya jumpai anak sekolah masih berseragam dan dengan "bangga" menggunakan seragam sekolahnya untuk berada di tempat-tempat yang menurut saya bkan pada tempatnya seperti : mall, game on line, lokasi olah raga orang dewasa (bilyard), cafe dll dan pada waktu yang tidak tepat pula (di waktu jam belajar)...

salah siapa....
dosa siapa.....
merupakan 2 pertanyaan yang sering mengganggu dalam pikiran saya...
kurang adanya kontrol baik oleh orang tua,pihak sekolah,pemerintah,bahkan hingga pada diri kita sendiri merupakan jawaban pertama yang keluar dalam benak saya untuk 2 pertannyan di atas...

mungkin bukan hanya saya yang berfikiran seperti diatas...teman-teman yang membaca pasti juga memiliki pemikiran yang sama bahkan lebih dari apa yang saya fikirkan...

sempat saya bermimpi untuk bisa mengontrol adik-adik saya yang masih bersatus siswa/i kapanpun,dimanapun dengan cepat dan akurat...

saya yakin di indonesia ada suatu sistem teknologi yang bisa mamanuhi mmpi saya untuk dapat mengontrol adik-adik saya khususnya kontrol dalam segi kedisiplan pendidikan...

sangat menyedihkan apabila di hari tua saya kelak saya hanya mampu mengeus dada melihat mental anak sekolah kelak...

mohon dengan sangat kepada pihak yang terkait dan semua temen-temen yang membaca pesan saya ini untuk memulai menyelamatkan generasi penerus bangsa yang notabenenya masih membutuhkan bimbingan dari kita yang lebih dewasa dari mereka...

marilah MENEGUR adik-adik kita yang berada di tempat yang tidak layak untuk mereka...

marilah MENEGUR adik-adik kita yang berada di waktu yang tidak tepat untuk mereka...

mari MEMBIMBING mereka dengan penuh KASIH SAYANG dan TIDAK MENGGUNAKAN KEKERASAN...

saya sadar kelak akan menjadi orang tua dari anak-anak saya..tetapi tidak ada salahnya kalo saya memulai dari sekarang sebelum saya menjadi orang tua....

mohon maaf bila bahasa,kata-kata saya menimbulkan kesan tidak enak di hati rekan-rekan yang membaca...

terimakasih....

Selasa, 27 Juli 2010

INDAHNYA HIDUP TANPA MEROKOK


Dengan kasih sayang Nya , insya Allah Tuhan mengabulkan do'a kami untuk saudara saudara ku yang tercinta yang masih susah berhenti dari merokok?

Hidup hanya sebentar, wahai saudara saudara ku, marilah kita raih hidup yang sehat-indah danbahagia tanpa merokok?

Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Dia lah Allah Yang Menciptakan langit, bumi dan manusia. Dia lah Allah yang mengatur dan menjaga tubuh manusia, dan peredaran matahari dll.

Allah juga menurunkan kabar gembira dan peringatan kepada manusia, agar manusia dapat hidup sehat, bahagia, tentram,damai, harmonis, dan selamat di dunia akhirat.

Inilah peringatan2 Allah dalam Al Qur'an;

"Aku telah berikan banyak nikmat nikmat pada mu, kalau kamu pandai bersyukur dan mensyukuri segala pemberian Ku, Aku akan tambahkan lagi nikmat-nikmat (kesehatan,rezeki,kebahagian dan ketentraman dll) kepada Mu, tapi kalau kamu tidak pandai bersyukur tunggulah azab Ku yang pedih,baik didunia maupun di akhirat nanti.(Surat Ibrahim ayat 7 )"

"..berbuat kebaikan lah kamu sesama, sebagaimana Aku telah berbuat baik kepada mu, janganlah kamu berbuat merusak di muka bumi ini, sesungguhnya Aku tidak menyukai orang orang yang membuat kerusakan atau( menzolimi,menyakiti dirinya sendiri ) QS.28:77."

Keuntungaan keuntungan bagi orang orang yang berhenti dari merokok;

"dialah Allah Yang Maha Tahu, Maha Pencipta dan Maha memelihara tubuh manusia.."

  1. Allah sangat menyayangi orang yang pandai mensyukuri pemberian Nya. Allah akan menambahkan nikmat nikmat kesehatan, rezeki,kebahagian, ketentraman dll kepadanya.
  2. Dalam hubungan dengan manusia terutama keluarga sangat menyenangkan. Memberikan kebahagian tersendiri kepada keluarga.
  3. Cel cel paru paru, kerongkongan dan mulut sangat terjaga kebersihannya dari keracunan dan kepanasan asab rokok.
  4. Badan makin sehat, bergairah, mulutpun bersih, tidak berbau rokok. Teman teman berbicara pun senang.
  5. Uang yang diberikan oleh Allah akan jauh lebih bermanfaat disedekahkan, dari pada membeli rokok lalu dibakar, nauzubillah..!
  6. Udara atau oksigen disekeliling kita bersih, enak dan nyaman untukbernafas. Dada merasa ringan.
  7. Bukan saja mendapat kebahagian di dunia, tapi juga Allah sudah menjanjikan mendapat pahala besar yang dicatat oleh Malaikat.
  8. Indahnya hidup mengikuti perintah-larangan Allah Yang menciptakan tubuh kita,.Di dunia mendapat kebahagian dan di akhirat mendapat syurga pula, dijauhi dari azap api neraka. Janji Allah tidak pernah meleset.

Kerugian kerugian bagi orang yang merokok

Dialah Allah yang telah memberi peringatan2, tapi manusia lalai. marilah kita renungkan sejenak..!

  1. Allah tidak sayang dan tidak menyukai orang yang merokok (QS.28:77) kenapa..?
  2. Karena merokok dapat merusak cel cel paru paru,kerongkongan, mulut dan gigi. Semua ciptaan Allah yang sempuran,indah dan perlu dijaga baik.(sesungguhnya cel2 itu menjerit jerit kesakitan,..karena keracunan rokok yang panas, sayang kita tidak mendengar jeritan itu?)
  3. Allah juga tidakmenyukai perbuatan yang mubazir. Merokok berarti membakar uang, tidak bermanfaat. Uang adalah karunia Tuhan.
  4. Dalam hubungan dengan manusia, keluarga selalu merasa kewatir akan kesehatan suaminya
  5. Makanan yang dihidang kurang merasa lezat, karena cel cel rasa dilidah sudah terganggu..!
  6. Mengotori udara sekeliling, kesenangan orang terganggu, dan bahkan dapat menambah penderitaan bagi orang orang yang berpenyakit paru paru. Artinya menzolimi,..atau menyakiti orang lain,..!
  7. Ikut memperbesar perusahaan rokok yang jelas jelas merusak / merugikan kesehatan masyarakat banyak. Para ahli kesehatan dunia sudah menyatakan bahwa racun rokok merusak cel2 paru2,kerongkongan dan mulut manusia.
  8. Nikmat merokok adalah tipu daya setan, yang nikmatnya sebentara, tapi akan menderita lebih lama. Yang menderita bukan diri sendiri saja, tapi keluarga tercinta ikut menderita pula?! Marilah kita renungkan,..wahai saudara2 ku..!

Indah hidup tanpa merokok

Orang yang pandai mensyukuri pemberian Tuhan, hidupnya sangat sehat , bahagia, bermanfaat lagi produktif.Kenapa..? karena Allah menyayanginya, dan keluargapun menyayangi pula. Akhirnya kesuksesan dan kebahagian hidup yang akan diraihnya?

Lalu bagaimana dengan orang2 yang tidak pandai mensyukuri pemberian Tuhan,(paru2) dan kesehatan..? Allah akan memberikan azab yang pedih didunia ini yaitu penderitaan sakit paru2 yang lama, dan bahkan mendapat penyakit kanker paru2 dll.

Akhirnya sakit, uang habis untukberobat, keluarga ikut menderita pula, semua makanan yang enak sudah tidak dapat dinikmati lagi. Apalah artinya hidup ini,..wahai saudara ku sayang,..!! Setiap pekerjaan yang merusak ciptaan Tuhan adalah tipu daya setan belaka. Setan adalah musuh utama manusia yang mengajak kepada kesensaraan hidupsaja. Maka berhati hatilah pada ajakan setan. Marilah kita mulai sekarang untuk menciptakan cel cel paru paru kita yang cantik dan indah dengan berhenti dari merokok. Allah Maha sayang dan Maha Tahu segala galanya. Semua adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Kita akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita selama ini dan setiap pemberian pemberian yang kita terima selama hidup .**

....memang berat berhenti dari merokok, tapi indah dan bahagianya hidup tanpa merokok?!! Semoga bemanfa'at, dan diredhoi Allah swt.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

anak ramaja




SEKS BEBAS, HIV/AIDS , NARKOBA DAN GENERASI BANGSA*
Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Dipublikasikan oleh yudha
Thursday, 27 December 2007



Oleh : dr yudha gunawan

“Islam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi siang dan malam (seluruh dunia).
Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah maupun yang sederhana,
kecuali akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang yang mulia dan menghinakan orang yang hina. Mulia karena Allah memuliakannya dengan Islam; hina karena Allah menghinakannya akibat kekafirannya.” [HR. Ahmad dalam Musnad-nya, jld. IV/103].

Masih segar dalam ingatan kita, 01 Desember 2007 genap 20 tahun dunia menyoroti tentang bahaya HIV/ AIDS yang mengancam jiwa manusia. Ibarat sebuah penyakit kanker yang siap memberangus setiap nyawa yang ditemuinya. Setiap tahun kita terperangah dengan semakin meningkatnya orang dengan HIV/AIDS dan pecandu narkoba. HIV/AIDS dan narkoba bukan lagi menjadi endemik ganda yang mengancam kehidupan gemerlap, bebas dan para penjaja seks namun sudah mulai masuk dalam ranah kehidupan rumah tangga dan anak-anak.
Keunikan Diri Remaja
Berbicara tentang remaja memang selalu menarik perhatian semua kalangan. Tidak hanya karena remaja merupakan sosok unik ketika melewati fase perubahan fisik namun juga dari perubahan non fisik yang penuh gejolak, potensi dan kedinamisan. Remaja laki-laki dengan perubahan suara, adanya jakun, atau mulai tumbuhnya —maaf— payudara pada perempuan menunjukkan adanya perubahan fisik. Sedangkan perubahan non fisik meliputi kelabilan emosi, perkembangan jiwa, dan pembentukan karakter yang sering ditemui dari gejala yang ditunjukkan dalam perilakunya. Pakar psikologi mengatakan fase ini dikenal dengan proses pencarian jati diri dan pemahaman diri, penjajakan peranan dan kedudukannya dalam lingkungan.
Dalam proses pencarian jati diri ini, remaja membutuhkan kemandirian yang menurut Sutari Imam Barnadib meliputi: “Perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.” Ada suatu dorongan yang kuat untuk terlepas dari ketergantungan dengan orang tua , keinginan dihargai sebagai orang dewasa dan mempunyai hak terhadap dirinya dalam berkeputusan.serta bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya.
Masa remaja adalah masa pembelajaran. Meskipun remaja mendapatkan kesempatan mengembangkan potensi diri namun tetap memerlukan bekal, bimbingan dan pengarahan orang tua, pendidik serta dukungan lingkungan yang kondusif. Membekali mereka dengan pemahaman sebuah konsep hidup yang benar sangat diperlukan dalam proses pencarian jati diri. Dengan bimbingan, membentuk remaja merasa percaya diri karena secara kemampuan mereka belum teruji dalam menghadapi tantangan hidup. Keterlibatan orang tua, pendidik dan lingkungannya dalam memberikan pengarahan akan membentuk kesiapan mentalnya karena secara kejiwaan remaja masih labil, mudah kebingungan ketika mengalami kesulitan dan kegagalan menjalani hidupnya.

Kenapa Seks Bebas, Narkoba Dan HIV/AIDS dekat dengan Remaja?
Menurut dr Boyke Dian Nugroho, SpOG MARS jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini mencapai 500-600 ribu orang dimana 40% diantaranya remaja berusia 15-10 tahun. Ada dua penyebab utama terjadinya percepatan penularan HIV/AIDS yaitu perilaku seks bebas (30%) dan peredaran narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik (50%). Dengan demikian Indonesia memungkinkan jadi episentrum HIV/AIDS. Di Malang raya sendiri hingga menjelang Desember 2007, tercatat 17 dari 65 penderita HIV/AIDS meninggal dunia. Menurut ketua Sekretaris tetap Komisi Pemberantasan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Malang, sejak ditemukannya kasus AIDS pada tahun 1991 tercatat secara kumulatif mencapai 221 orang dan 61 diantaranya meninggal dunia.
Menyimak perkembangan dan peredaran narkotika, psikotropika dan bahan-bahan aktif lainnya, Badan Narkotika Nasional mengatakan tahun 2003 hampir 10 juta telah menjadi korban barang haram ini. Kenapa dampak terbesar terjadi pada remaja?. Hal ini tidak terlepas dari secara kejiwaan remaja memang mengalami fase ketidakstabilan emosional. Sifat agresifitas yang tinggi, seringnya mengambil tindakan cepat tanpa pertimbangan matang ikut menunjang mudahnya remaja terjerumus pada lingkungan negatif. Ketika remaja menghadapi realitas hidup sering mengalami kebingungan akibat kelemahan prinsip hidup dan keterbatasan bekal hidup yang dimiliki. Kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat yang maladaptif menjadikan remaja lebih aman bersama teman-temannya dan tinggal di luar rumah dari pada bercengkrama dengan keluarga di rumah. Lingkungan negatif inilah yang rentan membawa remaja kepada pergaulan bebas , seks bebas , narkoba, dan tertularnya penyakit HIV/AIDS.

Remaja aset bangsa dan agama

Persoalan remaja saat ini sudah masuk dalam tataran kritis dan sulit dikendalikan. Hal ini menjadikan berbagai kalangan merasa cemas dan berupaya menemukan langkah-langkah penyelesaiannya. Bagaimanapun juga remaja adalah aset negara, agama, dan penerus perjuangan generasi sebelumnya. Secara kejiwaan remaja mempunyai energi yang berpotensi menghasilkan kecermelangan berfikir dalam menemukan ide dan inovasi baru yang penuh kedinamisan. Namun potensi ini harus diimbangi dengan kejelasan arah dan tujuan hidupnya. Ketika remaja kosong dengan tujuan hidup yang benar, pemanfaatan potensi ini akan beralih pada keadaan yang justru merugikan bahkan menghancurkan kehidupannya.
Sebagaimana pernyataan yang dikeluarkan presiden RI bahwa endemik ganda narkoba dan HIV/AIDS telah mencapai keadaan yang mengkuatirkan eksistensi negara. Beliau menyarankan langkah antisipatif dengan 3T-nya: Tingkatkan kepemimpinan dan upaya pencegahan, Tingkatkan layanan kesehatan komprehensif, profesional dan manusiawi, dan Tingkatkan mobilisasi sumber dana dan daya. Banyak pula pernyataan solutif yang diberikan para praktisi kesehatan, psikologi bahkan pemerhati remaja tentang cara terbaik bagaimana mencegah semakin menjamurnya kasus endemik ganda yang merusak generasi bangsa. Pergaulan bebas yang terjadi di kalangan remaja sekarang sudah menjadi wabah yang setiap saat bisa melahirkan berbagai penyakit fisik dan psikososial. Sebagian praktisi mengatakan remaja putri merupakan pihak yang sangat dikorbankan akibat pergaulan bebas ini Untuk itu perlu memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksinya sehingga remaja memahami tentang dirinya, keunikan organ reproduksinya. Dengan demikian remaja mampu memberikan keputusan tepat dan bertanggung jawab terhadap penggunaan organ reproduksinya. Selain itu dengan dalih kedaruratan, diambil langkah-langkah penyelesaikan seperti ATM kondom untuk mencegah penularan HIV/AIDS, anjuran pemakaian jarum steril saat mengonsumsi narkoba, kemudahan sarana untuk melakukan aborsi aman yang sebenarnya justru akan memfasilitasi semakin berkembangnya seks bebas berikut juga dampaknya. Sekali lagi kita selalu dihadapkan dengan kenyataan bahwa kenaikan kasus dampak dari pergaulan bebas yang terjadi di masyarakat terutama remaja semakin tidak terkendali. Ibarat fenomena gunung es dampak pergaulan bebas dan seks bebas yaitu meningkatnya pemakai narkoba, berkembangnya penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS yang akan menghancurkan aset termahal bangsa ini.

Bagaimana Islam Memberi Sulusi

Islam hadir sebagai pengatur dan pemecah segala persoalan manusia termasuk di dalamnya bagaimana menyiapkan generasi yang unggul, siap menjadi penerus generasi mendatang. Manusia adalah bagian dari mahkluk Alloh yang diberi kelebihan berupa kemampun untuk menganalisa segala persoalan yang dihadapinya. Namun demikian akal tidak akan pernah mampu menemukan aturan yang terbaik yang mampu mengantarkan manusia pada tujuan hidup yang diinginkan. Manusia akan terjebak dengan memenuhi keinginan hawa nafsunya ketika dibiarkan mengatur hidupnya sendiri tanpa keterlibatan Sang Pencipta. Karena itulah Islam hadir sebagai agama yang berpengaruh dalam segala aspek kehidupan manusia. Islam menanamkan sebuah keyakinan (aqidah) dengan mendudukkan Alloh sebagai pencipta(Al-kholik) dan pengatur (Al-mudabbir) kehidupan. Manusia akan kembali kepada-Nya dengan membawa beban tanggung jawab atas segala pilihan perbuatannya di dunia ini yang menjadi penentu kehidupannya di akhirot. Dari sini maka umat islam akan berusaha untuk berjalan sesuai dengan aturan Alloh dan tidak keluar dari koridor Islam. Umat Islam melakukan suatu perbuatan karena meyakini perbutan itu diwajibkan atau dibolehkan dalam Islam dan meninggalkan suatu perbuatan karena dilarang Alloh. Seorang muslim akan berlomba memperbanyak pahala dan mendapatkan keridhoan Alloh. Prinsip hidup seperti inilah yang mestinya tertanam dalam setiap kaum muslimin termasuk para remaja kita.
Hal ini berbeda dengan pola kehidupan sekuler yang diagungkan Masyarakat Barat. Gaya hidup sekuler merupakan gaya hidup yang mengesampingkan aspek tuhan sebagai pengatur hidup manusia. Agama menjadi urusan pribadi seseorang dengan tuhannya dan terpisah dari kehidupan duniawi. Penghilangan pengaruh agama dalam kehidupan duniawi inilah yang mengantarkan masyarakat barat untuk membuat aturan hidup sesuai dengan keinginannya. Berawal dari harapan terpenuhinya segala keinginan manusia berkembanglah empat kebebasan yaitu: kebebasan beragama (berkeyakinan), berpendapat, kepemilikan, dan bertingkah laku. Agar dalam pelaksanaan kebebasan ini tidak melanggar hak orang lain lahirlah slogan kebebasan tidak boleh melanggar hak asasi manusia (HAM). Setiap orang tua di kehidupan sekuler harus memberikan jaminan tidak melanggar hak asasi anak sebagai manusia dalam menerapkan pendidikan terhadap anaknya. Remaja mempunyai kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya tanpa harus dibayangi pengarahan orang tua.
Terbatasnya peran orang tua dan kebebasan tanpa kendali ini menyebabkan berkembangnya kebebasan berfikir remaja untuk merencanakan hidupnya. Remaja bebas bertindak (permisif) dalam mencari langkah solutif permasalahannya, terjebak dengan kehidupan hedonistik (kesenangan) dan pergaulan bebas yang mengantarkannya berperilaku seks bebas. Gaya hidup remaja barat seperti ini telah mulai diikuti remaja muslim. Dengan dalih kebebasan, remaja kita telah mengalami pergeseran ke arah perilaku liar tak terkendali. Parahnya, gaya hidup sekuler itu makin populer di mata remaja dan sering kali menjadi acuan dalam perjalanannya mencari identitas diri.
Sekarang, bagaimana orang tua, terutama para ibu berperan sebagai ibu terbaik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu ibu perlu mempersiapkan diri dengan konsep dan metode pendidikan yang benar sekaligus memberi keteladanan berdasar Islam. Dengan pendidikan Islam pada usia dini maka di usia remaja dan baligh anak-anak mampu menjadi sosok muslim yang telah menemukan jati dirinya, selalu memegang prinsip dan tujuan hidup islami menuju insan taqwa. Tentunya ibu harus mengasah kemampuan dan potensi diri dengan meningkatkan pemahaman terhadap dienul islam sebagai acuan pendidikan generasi kita.Walloohu A’lam Bisshowaf